55 Asuhan Keperawatan Otitis Media

Pengertian
Otitis media adalah peradangan sebagian atau seluruh mukosa telinga tengah, tuba eustachius, antrum mastoid dan sel-sel smatoid.
Otitis media terbagi menjadi 2 yaitu :
1. Otitis media superatif
a. Otitis media superatif akut
b. Otitis media superatif kronis
2. Otitis media non superatif
a. Otitis media serosa akut (basotrauma : eerotitis)
b. Otitis media serosa kronis (glue ear)
(Soepardi, Arsyad, 1998)

Otitis media superatif kronika (OMSK) atau otitis media perforata (OMP) adalah infeksi kronis di telinga tengah dengan perforasi membran timpani dan sekret yang keluar dari telinga tengah terus menerus atau hilang timbul. Sekret mungkin encer atau kental, bening atau berupa nanah.
(Soepadi, Arsyad, E., 1998)
Otitis media superatif kronika ada 2 yaitu :
1. Otitismedia superatif kronika aktif
Yaitu telinga penderita terdapat kolesteatoma (dengan atau tanpa infeksi) atau perforasi membran timpani kronika dengan infeksi (tanpa kolesteatoma) dengan gejala otore.
2. Otitis media superatif kronika tak aktif
Yaitu telinga penderita perforasi membrana tympani kronika tanpa kolesteatoma atau infeksi tetapi rentan terhadap infeksi dengan gejala gangguan pendengaran.
(Cody, D. Thaner, 1991)


B. Etiologi
Patogen tersering yang diisolasi dari telinga pasien dengan OMSK adalah P.aeruginosa dan S. aureus. Bakteri anaerob juga sering ditemukan dalam penelitian.Jamur biasanya jarang muncul kecuali bila terdapat super infeksi pada liang telinga.(Buchman,2003).

Faktor yang menyebabkan OMA menjadi OMSK yaitu :
1. Terapi yang terlambat diberikan.
2. Terapi yang tidak adekuat.
3. Virulensi kuman tinggi.
4. Daya tahan tubuh yang rendah (gizi kurang) atau higiene buruk.
(Soepadi Arsyad, E., 1998)


C. Manifestasi Klinis
Tanda dan gejala OMSK yaitu :
1. Perforasi pada marginal atau pada titik atau sentral yaitu perforasi yang terletak di pers flaksida pada membran timpany.
2. Abses / fistel netro-aurikuler (belakang telinga)
3. Polip atau jaringan granulasi di liang telinga luar yang berasal dari dalam telinga tengah.
4. Adanya sekret berbentuk nanah dan berbau khas.
(Soepadi, Arsyad E, 1998)

D. Patofisiologi
Otitis media akut dengan perforasi membran tympani menjadi otitis media supuratif kronis apabila prosesnya sudah lebih dari 2 bulan bila proses infeksi kurang dari 2 bulan disebut otitis media supuratif sub akut, beberapa faktor yan menyebabkan OMA menjadi OMSK ialah terapi yang terlambat diberikan, terapi yang tidak adekuat, virulensi kuman tinggi, daya tahan tubuh pasien rendah (gizi kurang), letak higiene buruk. (Soepardi, Arsyad, E., 1998)

E. Pathway
Mikroorganisme
v
Lubang telinga tengah
v
Menimbulkan peradangan
v
Timbul otore, secara terus menerus
v
Infeksi Perawatan diri yang salah
v
Radang pada telinga
v
Penurunan syaraf pendengaran
v
Gangguan fungsi pendengaran

F. Komplikasi
1. Meningitis
2. Abses otak
3. Labiringitis
4. Paralisis saraf fasialis yaitu adanya celah-celah tulang alami yang menyebabkan hubungan antara saraf dengan telinga tengah, maka produk-produk infetoksik dapat menimbulkan paralisis wajah.
5. Abses esktradural adalah suatu kumpulan pos diantara dural dan tulang yang menutupi rongga mastoid atau telinga tengah. Gejala-gejala antara lain telinga dan kepala yang berat.
6. Abses subdural
Suatu abses subdural dapat timbul akibat perluasan langsung abses ekstradural atau perluasan suatu tromboflebitis lewat saluran-saluran vena. Gejala-gejalanya antara lain demam, nyeri kepala, gangguan timbul koma pada pasien dengan otitis media supuratif kronik.
(Adams, George L, 1994 : 113-115)

Gejala awal komplikasi OMSK
( Arts, 2001)
1. Demam
2. Nyeri retroorbita pada sisi telinga yang terinfeksi
3. Nistagmus dan vertigo
4. Paralisis fasial pada sisi telinga yang terinfeksi
5. Nyeri kepala dengan atau tanpa letegia.
6. Papil edema
7. Meningismus

G. Penatalaksanaan
Prinsip dasar penatalaksanaan medis OMSK adalah (Mills,1997) :
1. Pembersihan telinga secara adekuat (aural toilet)
2. Pemberian anti mikroba topikal yang dapat mencapai lokasi dalam jumlah adekut.
3. Bedah
Terapi OMSK tidak jarang memerlukan waktu lama, serta harus berulang-ulang. Sekret yang keluar tidak cepat kering atau selalu kambuh lagi, keadaan ini antara lain disebabkan oleh satu atau beberapa keadaan :
1. Adanya perforasi membran timpani yang permanen, sehingga telinga tengah berhubungan dengan dunia luar.
2. Terdapat sumber infeksi di faring, nasofaring, hidung dan sinus paranasal.
3. Sudah terbentuk jaringan patologik yang ireversibel dalam rongga mastoid.
4. Gizi dan higiene yang kurang.
Jenis pembedahan pada OMSK
Ada beberapa jenis pembedahan atau teknik operasi yang dilakukan pada OMSK :
1. Mastoidektomi sederhana
Operasi dilakukan pada OMSK tipe benigna yang dengan pengobatan konservatif tidak sembuh. Dengan tindakan operasi ini dilakukan pembersihan ruang mastoid dari jaringan patologik.
Tujuannya ialah supaya infeksi tenang dan telinga tidak berair lagi pada operasi ini fungsi pendengaran tidak diperbaiki.
2. Mastordektomi radikal
Operasi ini dilakukan pada OMSK maligna dengan infeksi atau kolesteatom yang sudah meluas. Tujuan operasi ini adalah untuk membuang semua jaringan patologis dan mencegah komplikasi ke intrakranial.
3. Mastoidektomi radikal dengan modifikasi (operasi bondy)
Operasi ini dilakukan pada OMSK dengan kolesteatom di daerah atik, tetapi belum merusak kavum timpani. Tujuan operasi ialah untuk membuang semua jaringan patologik dari rongga mastoid, dan mempertahankan pendengaran yang masih ada.
4. Miringoplasti
Operasi ini merupakan jenis timpanoplasti yang paling ringan, dikenal juga dengan nama timpanoplasti tipe I, rekonstruksi hanya dilakukan pada membran timpani. Tujuan operasi ialah untuk mencegah berulangnya infeksi telinga tengah pada OMSK tipe benigna dengan perforasi yang menetap.
5. Timpanoplasti
Operasi ini dikerjakan pada OMSK tipe benigna dengan kerusakan yang lebih berat atau OMSK tipe benigna yang tidak bisa ditenangkan dengan pengobatan medikamentosa. Tujuan operasi ialah untuk menyembuhkan penyakit serta memperbaiki pendengaran. (Soepardi, Arsyad, 1997 55-57)

H. Fokus Pengkajian
Menurut Tucker (1998)
Pengkajian
1. Kaji ketajaman pendengaran dan ketrampilan berkomunikasi
Membaca bibir atau bahasa (syaraf alat bantu dengar)
Catat dan pensil
Kartu pengingat
Tentukan status dan durasi kerusakan
2. Kaji penerimaan terhadap kerusakan dan ketrampilan yang dipelajari
Penilaian yang bagus
Ketakutan atau kecemasan
Marah, bermusuhan
Pemeriksaan telinga terhadap cairan, krusta, akumulasi serembi dan deformitas

I. Diagnosa Keperawatan
1. Perubahan dalam persepsi-sensori yang berhubungan dengan kerusakan pendengaran.
Kriteria hasil :
a. Pasien menerima pembatasan disebabkan oleh kerusakan pendengaran
b. Mendemonstrasikan tingkah laku penanganan positif
c. Menggunakan ketrampilan yang dipelajari untuk berkomunikasi
Intervensi
a. Kaji tingkat kerusakan pendengaran
b. Beri penguatan penjelasan dokter tentang kerusakan pendengaran
c. Kaji dan buat cara berkomunikasi
2. Ansietas yang berhubungan dengan kerusakan pendengaran

Kriteria hasil :
a. Pasien memahami penyebab ansietas
b. Mendemonstrasikan tingkah laku positif dalam penanganan ansietas.
c. Melaporkan penggunaan dalam tingkat ansietas.
Intervensi :
a. Kaji tingkat ansietas
b. Dorong dan sediakan waktu untuk mengungkapkan perasaan
c. Jelaskan perencanaan perawatan dan libatkan pasien dalam perencanaan tersebut
d. Dorong berkomunikasi dengan orang terdekat
3. Kurangnya pengetahuan yang berhubungan dengan kurangnya informasi mengenai perawatan di rumah dan evaluasi.
Kriteria hasil :
a. Mendemonstrasikan pengetahuan tentang sumber yang tersedia
b. Memahami dan mendemonstrasikan penggunaan dan perawatan alat bantu pendengaran
c. Mendemonstrasikan penetesan obat tetes telinga dengan akurat.
Intervensi :
a. Beri penguatan penjelasan dokter mengenai penyebab kerusakan dan penanganan yang ditentukan.
b. Jelaskan faktor-faktor keamanan yang penting dalam lingkungan rumah.
c. Instruksikan pasien dalam perawatan alat bantu pendengaran dan penyediaan baterai ekstra pada tangan sepanjang waktu.
d. Demonstrasikan perawatan balutan telinga dan penetesan obat tetes jika memungkinkan.
4. Gangguan harga diri rendah berhubungan dengan penampilan fisik.
Kriteria hasil :
- Menyatakan pemahaman akan perubahan dan penerimaan dari situasi yang ada.
Intervensi :
a. Dorong dan dukung pasien dalam memberikan perawatan.
b. Dorong keluarga terdekat untuk menyatakan perasaan pasien.
c. Bantu pasien untuk mengatasi perubahan pada penampilan.
d. Kolaborasi dengan psikiatri dalam program pengobatan.
(Doenges, E., 1999)
5. Infeksi berhubungan dengan tidak adekuatnya pertahanan primer.
Kriteria hasil :
- Mencegah atau menurunkan resiko infeksi
Intervensi :
a. Kaji tanda-tanda vital
b. Tekankan pentingnya cuci tangan
c. Berikan perawatan khusus pada keluarga
(Doenges, E., 1999)

DAFTAR PUSTAKA


Adam S, George, L., 1994, ..----- Buku Ajar THT, EGC, Jakarta.

Arhs,H A. 2001. Intratemporal and Intracranial Complications of Otitis Media In ; Head and Neck Otolaringology Volume 2..3 th Ed.Bailey,B.J.et al (Eds).New York::Lippincott Willims and Wilkins Pp:1760-2

Buchman,C.A.et al.2003.Infection of The Ear.In:Essencial Otolaryngology Head and Head Surgery .8th Ed.Lee,K.J (Eds) New York:Mc-Graw Hill Pp:484-6

Mills,R.P.1997. Management of Chronic Suppurative Ototis Media. In:scott-browns Otolaryngology.6th Ed.Booth,J.B(Eds) Oxford:Butterworth-Heinemann.Pp:3/10/1-8

Gody, D. Thone, R., 1991, Penyakit Telinga, Hidung dan Tenggorokan, EGC, Jakarta.

Soepardi, Arsyad, E., 1998, Buku Ajar Ilmu Penyakit Telinga-Hidung-Tenggorokan, FKUI, Jakarta.

Tucker, Martin, S., 1998, Standar Perawatan Pasien : Proses Keperawatan, Diagnosis dan Evaluasi, EGC, Jakarta..