82 ASKEP SIROSIS HEPATIS

ASUHAN KEPERAWATAN PADA KLIEN
DENGAN SIROSIS HEPATIS


A. Definisi
Sirosis hepatis adalah penyakit yang ditandai oleh adanya peradangan difus dan menahun pada hati, diikuti dengan proliferasi jaringan ikat, degenerasi dan regenerasi sel-sel hati, sehingga timbul kekacauan dalam susunan parenkhim hati. (Arief Mansjoer, 1999)
Sirosis hepatis adalah penyakit kronis yang menyebabkan destruksi sel dan fibrosis (jaringan parut), jaringan hepatik. (Sandra M. Nettina, 2001)
Sirosis hepatis adalah penyakit hati menahun yang difus, ditandai dengan adanya pembentukan jaringan disertai nodul. Dimulai dengan proses peradangan, nekrosis sel hati yang luas, pembentukan jaringan ikat dan usaha regenerasi nodul. (Iin Inayah, 2004).

B. Etiologi
Penyebab terjadinya sirosis hati adalah :
1. Hepatitis virus B atau C
2. Alkohol
3. Metabolisme hemokromatosis idiopatik, penyakil wildon, defisiensi alfa I, antitripsin, galaktosemia, tirosinemia kongenital, DM, penyakit penimbunan glikogen.
4. Kolestasis kronis, sirosis biliar sekunder intra dan ekstra hepatik
5. Obstruksi aliran vena hepatik, penyakit vena oklusif, sindrom budd chiari perikarditis konstriktiva dan payah jantung kanan.
6. Gangguan imunologis hepatis : hepatitis kronis aktif
7. Toksik dan obat : MTX, INH, dan Metildopa
8. Operasi pintas usus halus pada obesitas
9. Malnutrisi, infeksi seperti malaria, sistosomiasis
10. Idiopatik
(Iin Inayah, 2004)
C. Tanda dan Gejala
Menurut H.M. Sjaifoellah Noer (1997) tanda dan gejala dari sirosis hepatitis adalah :
1. Merasa lebih cepat letih
2. Nafsu makan menurun
3. Perasaan kembung dan mual
4. Kadang-kadang diare atau buang air besar lebih sering dari biasanya atau konstipasi.
5. Pada gejala lanjut timbul pembengkakan pada kedua tungkai bawah terutama bila terlalu lama berdiri dan akan berkurang dengan posisi berbaring.
6. Dapat terjadi perubahan warna urine menjadi lebih kuning tua atau kecoklatan
7. Mata tampak berwarna kekuningan
8. Terdapat gejala perdarahan saluran dan bagian atas
9. Pada gejala yang berat timbul hematemisis dari melena

D. Penatalaksanaan
Penatalaksanaan sirosis hepatis untuk mengetahui dan mengatasi edema dan asites menurut Arief Mansjoer (1999) adalah :
1. Istirahat dan diet rendah garam. Dengan istirahat dan diet rendah garam (2.500 gr/hari) kadang-kadang asitas dan edema yang telah dapat diatasi.
Adakalanya harus dibantu dengan mengatasi jumlah pemasukan cairan selama 24 jam, hanya sampai 1 liter atau kurang.
2. Bila dengan istirahat dan diet tidak dapat diatasi, diberikan pengobatan diuretik berupa spinorolakton 50-100 mg/hr (awal) dan dapat ditingkatkan sampai 300 mg/hari setelah 3-4 hari terdapat perubahan.
3. Bila terjadi asites refrakter (asites yang tidak dapat dikendalikan dengan terapi medikamientosa yang intensif). Dilakukan terapi parasintesis, walaupun merupakan cara pengobatan asites yang tergolong kuno dan sempat ditinggalkan karena berbagai komplikasinya parasintesis parasimpatis banyak kembali dicoba untuk digunakan. Pada umumnya parasimpatis aman apabila disertai dengan infus albumin sebanyak 6-8 untuk setiap liter cairan asites. Selain albumin dapat pula digunakan setelah parasintesis. Pengaturan diet rendah garam dan diuretik biasanya tetap diperlukan.
4. Pengendalian cairan asites, diharapkan terjadi penurunan berat badan 1 kg/ 2 hari atau keseimbangan cairan negatif 600-800 ml/hr. Hati-hati bila cairan terlalu banyak dikeluarkan dalam satu saat, dapat mencetuskan ensefalopati hepatis.

E. Fokus Pengkajian
Pengkajian untuk sirosis hepatis meliputi :
1. Keluhan utama, yakni keletihan, anoreksia, edema pergelangan kaki pada sore hari, epistaksis, perdarahan gusi, dan penurunan berat badan.
2. Pada penyakit lanjut, perhatikan :
a. Dispepsia kronis, konstipasi atau diare.
b. Dilatasi vena kutan disekitar umbilikus (kaput medusa). haemorrhoid internal, asites, splenomegali.
c. Keletihan, kelemahan dan wasting yang disebabkan oleh anemia dan nutrisi buruk.
d. Ketidakseimbangan ekstrogen, androgen yang bisa menyebabkan angioma laba-laba dan palmar critema, kehilangan libido, menstruasi tidak teratur pada wanita, atropi testikular dan prostat, ginekomastis dan impotensi pada pria.
3. Hepar nodular mengalami pembesaran
4. Kaji aktivitas atau latihan atau istirahat meliputi kelemahan, kelelahan, terlalu lelah, letargi, penurunan masa otot/ tonus.
5. Kaji pada eliminasi klien yang meliputi flatus, distensi abdomen (hematomegali, splenomegali, asites). Penurunan atau tak adanya bising usus, feses, warna tanah liat/ melena “urine gelap, pekat.
6. Kaji nyeri meliputi nyeri tekan abdomen atau nyeri kuadran kanan atas pruritus, neuritis perifer, perilaku hati-hati atau distraksi, fokus terhadap diri sendiri.
F. Nursing Care Plans
1. Ketidakseimbangan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh ybd menurunnya nafsu makan.
NOC : Tujuan klien mencapai status nutrisi adekuat pada tgl 6 Mei 2007
a. Status nutrisi
Indikator 1 2 3 4 5
1. Intake nutrisi
2. Intake makanan dan cairan
3. Energi
4. Berat tubuh
5. Pengukuran biokemia
Keterangan :
1. Tidak sesuai yang diharapkan
2. Kurang sesuai yang diharapkan
3. Cukup sesuai yang diharapkan
4. Sesuai yang diharapkan
5. Sangat sesuai yang diharapkan
b. Diet
Indikator 1 2 3 4 5
1. Mendeskripsikan tentang diet
2. Mendeskripsikan tentang keuntungan dari pengaturan diet
3. Merancang tujuan untuk pengaturan diet
4. Memilih diet
5. Menyusun menu diet
6. Mengembangkan kebiasaan pengaturan diet sehat
Keterangan :
1. Tidak pernah melakukan 4. Sering melakukan
2. Jarang melakukan 5. Selalu melakukan
3. Kadang-kadang melakukan
NIC
1) Monitor Nutrisi
Aktivitas :
- Timbang BB pasien pada interval yang spesifik
- Monitor turgor kulit sesuai kebutuhan
- Monitor pertumbuhan dan lingkungan
- Monitor energi, penurunan fungsi organ
- Minitor kalori dan pemasukan nutrisi
- Kolaborasi dengan ahli gizi
- Buat jadwal waktu makan
2) Terapi Nutrisi
Aktivitas :
- Monitor makanan/ minuman harian dan pemasukan kalori
- Kolaborasi dengan ahli gizi sesuai kebutuhan
- Lakukan pemasangan NGT jika perlu
- Bantu pasien duduk sebelum makan
- Mengajarkan tentang diet dan rencananya sesuai kebutuhan
2. Pola Napas Tidak Efektif
NOC : klien mampu meningkatkan status respirasi setelah dilakukan tindakan keperawatan sampai pada tanggal
Status nutrisi
Indikator 1 2 3 4 5
1. Respirasi dalam batas normal
2. Irama respirasi dalam batas normal
3. Dispnea saat tidur tidak tampak
4. Auskultasi suara napas dalam batas normal
5. Fungsi paru dalam batas normal

Keterangan :
1. Tidak sesuai yang diharapkan
2. Kurang sesuai yang diharapkan
3. Cukup sesuai yang diharapkan
4. Sesuai yang diharapkan
5. Sangat sesuai yang diharapkan
NIC
Monitoring respirasi
Aktivitas :
- Monitor kecepatan, irama, kedalaman dan kemampuan bernapas
- Monitor pola napas, biadypnea, tachipnea, hiperventilasi, kusmalul
- Auskultasi suara napas
- Monitor pernapasang hidung misalnya snoring
3. Kelebihan Volume Cairan
NOC: Klien mampu mendapatkan status hidrasi yang adekuat sampai pada tanggal:
Status hidrasi
Indikator 1 2 3 4 5
1. Hidrasi kulit
2. Edema perifer tidak tampak
3. Asites tidak tampak
4. Demam tidak tampak
5. Urine output batas normal

Keterangan :
1. Tidak sesuai yang diharapkan
2. Kurang sesuai yang diharapkan
3. Cukup sesuai yang diharapkan
4. Sesuai yang diharapkan
5. Sangat sesuai yang diharapkan
NIC : Manajemen cairan
Aktivitas :
- Monitor status hidrasi (kelembaban membran mukosa)
- Monitor vital sign jika diperlukan
- Monitor indikasi kelebihan cairan (krakles, peningkatan cup, edema, tekanan vena jugularis,asites ) jika diperlukan
4. Intoleransi Aktivitas
NOC : klien mampu meningkatkan kebutuhan energi dalam melakukan aktifitas sehari-hari setelah dilakukan tindakan keperawatan sampai pada tanggal
Activity tolerance
Kriteria :
Indikator 1 2 3 4 5
1. Warna kulit pucat
2. Usaha bernapas
3. Langkah saat berjalan
4. Kemampuan melakukan ADL

Keterangan :
1. Dalam batas normal
2.
3. Sesuai yang diharapkan
4. Sangat sesuai yang diharapkan
NIC : Manajemen energi
Aktivitas :
- Identifikasi keterbatasan fisik pasien
- Dorong klien mampu mengungkapkan keterbatasan fisiknya
- Identifikasi apa dan berapa banyak aktivitas yang masih bisa dilakukan oleh klien
- Monitor asupan nutrisi yang dibutuhkan untuk sumber energi
- Monitor adanya kelelahan fisik dan emosi yang berlebihan
- Monitor respon cardiopulmonal terhadap aktivitas : takikardi, disritmia dsypnoe, diaphoresis, pucat, perubahan hemodinamik, perubahan irama pernapasan
- Monitor dan catat pola tidur klien
- Monitor adanya nyeri atau ketidaknyamanan saat klien beraktivitas
- Kurangi ketidaknyamanan fisik yang mempengaruhi aktivitas fisik dan psikis
- Batasi pengunjung secara tepat
- Tingkatkan kualitas tidur klien



DAFTAR PUSTAKA

Baugman C, Diane dan Hackley C. JoAnn, Keperawatan Medika Bedah, Jakarta: EGC. 2001.

Engram,Barbara, Rencana Keperawatan Medikal-Bedah, Jakarta: EGC, 1998.

Johnson, Marion., Meridean, Mass dan Sue Moordhed, Nurshing Outcomes Classifications (NOC), Philadephia Mosby, 2000.

Mc Cloeskey, Soanne C dan Gloria M. Bulecheck, Nursing Interventions Classification (NIC), Philadelphia: Mosby, 2000.

Suriadi dan Yuliani Rita, Buku Pegangan Praktek Klinik. Asuhan Keperawatan Pada Anak, Edisi I, Jakarta, 2001.

NANDA, Nursing Diagnosa: Defiition and Classification, Philadelphia, Mosby, 2005-2006.

Nelson, Ilmu Kesehatan Anak, Edisi 15, Vol. 3. Jakarta: EGC. 2000.

Tisher Craig C. dan Wilcone S. Christopher, Buku Saku Nefrologi, Jakarta: EGC, 1997.