Makalah | Laporan Pendahuluan | Asuhan Keperawatan | Tips Sehat | Celana Olahraga | News

72 Asuhan Keperawatan Cidera Kepala

BAB I
TINJAUAN TEORI cidera kepala

A. Pengertian cidera kepala
Menurut Tucker (1998 : 496) pengertian dari cidera kepala adalah adanya pukulan atau benturan mendadak pada kepala dengan atau tanpa kehilangan kesadaran.

B. Etiologi cidera kepala
Menurut Carolyn M. H. (1996 : 225) penyebab dari cidera kepala adalah kecelakaan lalu lintas, jatuh dan benturan.
Klasifikasi cidera kepala :
1. Cidera Kepala Ringan
a. GCS 13 – 15
b. Tidak ada kehilangan kesadaran
c. Tidak adan infoksikasi alkohol atau obat terlarang
d. Pasien dapat mengeluh nyeri kepala dan pusing
e. Pasien dapat menderita abrasi, laserasi atau hematoma kulit kepala
f. Tidak adanya kriteria cedera sedang berat.
2. Cidera Kepala Sedang
a. GCS 9 – 12
b. Amnesia pasca trauma
c. Muntah
d. Tanda kemungkinan fraktur kranium (mata rabun, hematimpanum, otorea atau rinorea cairan serebrospinal)
e. Kejang.
3. Cidera Kepala Berat
a. GCS 3 – 8
b. Penurunan derajat kesadaran secara progresif
c. Tanda neurologis fokal
d. Cedera kepala penetrasi atau teraba farktur depresi kronium.

C. Manifestasi Klinis cidera kepala
Menurut Tucker (1998 : 406-407) tanda dan gejala yang muncul pada pasien cidera kepala yaitu :
1. Perubahan tingkat kesadaran (lethargi sampai koma).
2. Perubahan tingkah laku, seperti cepat marah, gelisah, bingung, kacau mental.
3. Sakit kepala.
4. Mual dan muntah.

D. Komplikasi cidera kepala
Menurut Hudak dan Gallo (1996 : 243-248) komplikasi cidera kepala adalah :
1. Edema pulmonal
2. Kejang
3. Kebocoran cairan serebrospinal
4. Hemorragi.
E. Pathway cidera kepala




F. Penatalaksanaan cidera kepala
Menurut Siahaan E.S.L (1996 : 110) penatalaksanaan cidera kepala adalah :
1. Dexamethason atau kalmethason sebagai pengobatan anti edema serebral, dosis sesuai dengan berat ringannya trauma.
2. Therapi hiperventilasi (trauma kepala berat) untuk mengurangi vasodilatasi.
3. Pemberian analgetik.
4. Pengobatan anti edema dengan larutan hipertonis yaitu monitol 20% atau glukosa 40 % atau gliserol 10 %.
5. Antibiotika yang mengandung barrier darah otak (penisillin) atau untuk infeksi anaerob diberikan metronidazole.
6. Pembedahan.

G. Diagnosa Keperawatan dan Intervensi cidera kepala
1. Gangguan perfusi jaringan serebral berhubungan dengan edema otak (Depkes, 1996 : 68-69).
Tujuan :
a. Tingkat kesadaran dalam batas normal.
b. Fungsi kognitif dan sensori / motorik normal.
Intervensi :
a. Kaji faktor-faktor yang menyebabkan, koma, kesadaran menurun dan peningkatan TIK.
b. Monitor dan catat status neurologik tentang frekuensi terjadi dan bandingkan dengan GCS.
1) Respon mata terhadap rangsang.
2) Respon verbal terhadap orang, waktu dan tempat.
3) Respon motorik (ekstremitas atas, bawah).
c. Evaluasi pupil, besar dan responnya terhadap cahaya.
d. Turunkan temperatur untuk mencegah hypertermi.
e. Kurangi stimulus yang tidak berarti.
f. Observasi terhadap serangan tiba-tiba dan cegah pasien dari kecelakaan.
2. Potensial tidak efektifnya pola pernapasan berhubungan dengan adanya obstruksi trakea bronkial (Siahaan E.S.L, 1996 : 58-61).
Tujuan : Pola napas efektif dalam batas normal.
Intervensi :
a. Kaji kecepatan, kedalaman, frekuensi dan bunyi napas.
b. Atur posisi pasien dengan posisi semi fowler (150 – 450).
c. Lakukan penghisapan lendir dengan hati-hati selama 10 – 15 detik.
d. Berikan posisi semi prone lateral atau miring.
e. Apabila pasien sudah sadar, anjurkan dan ajak latihan napas dalam.
f. Lakukan kolaborasi dengan tim medis dalam pemberian terapi oksigen.
g. Lakukan dengan tim analis dalam melaksanakan analisa gas darah.
3. Gangguan keseimbangan cairan dan elektrolit berhubungan dengan penurunan ADH (Siahaan E.S.L, 1996 : 62-63).
Tujuan :
a. Cairan elektrolit tubuh seimbang.
b. Turgor kulit baik.
Intervensi :
a. Monitor asupan haluaran setiap 8 jam sekali.
b. Berikan cairan setiap hari tidak boleh lebih dari 2000 cc.
c. Pasang dower kateter dan monitor warna, bau, dan aliran darah.
d. Kolaborasi dengan tim medis untuk pemeriksaan kadar elektrolit tubuh.
e. Kolaborasi dengan tim medis dalam pemberian lasix.
4. Resiko tinggi gangguan nutrisi kurang dari kebutuhan berhubungan dengan kelemahan otot yang diperlukan untuk mengunyah, menelan (Doenges M.E., 2000 : 285).
Tujuan :
a. Mendemonstrasikan pemeliharaan / kemajuan peningkatan berat badan sesuai tujuan.
b. Tidak mengalami tanda-tanda malnutrisi.
Intervensi :
a. Kaji kemampuan pasien untuk mengunyah, menelan, batuk dan mengatasi sebresi.
b. Auskultasi bising usus.
c. Timbang berat badan sesuai indikasi.
d. Jaga keamanan saat memberikan makan pada pasien.
e. Berikan makan dalam jumlah kecil dan dalam waktu sering dan teratur.
f. Kaji feces, cairan lambung, muntah darah, dan sebagainya.
5. Gangguan rasa nyaman nyeri kepala berhubungan dengan kerusakan jaringan otak dan perdarahan otak atau peningkatan tekanan intrakranial (Siahaan E.S.L, 1996 : 70 -71).
Tujua : Kebutuhan rasa nyaman terpenuhi.
Intervensi :
a. Kaji mengenai lokasi, intensitas, penyebaran, tingkat kegawatan, dan keluhan-keluhan pasien.
b. Ajarkan latihan tehnik relaksasi.
c. Buat posisi kepala lebih tinggi.
d. Kolaborasi dengan tim medis dalam pemberian obat-obatan analgetika.
6. Gangguan mobilitas fisik berhubungan dengan penurunan kekuatan otot (Doenges M.E, 2000 : 282-283).
Tujuan :
a. Pasien dapat melakukan kembali atau mempertahankan posisi fimasi optimal.
b. Tidak ada kontraktur.
c. Mempertahankan integritas kulit.
Intervensi :
a. Periksa kembali kemampuan dan keadaan secara fungsional pada kerusakan yang terjadi.
b. Kaji derajat imobilisasi pasien dengan skala ketergantungan (0 – 4).
c. Letakkan pasien pada posisi tertentu untuk menghindari kerusakan karena tekanan.
d. Pertahankan kesejajaran tubuh secara fungsional.
e. Bantu pasien untuk melakukan rentang gerak.
f. Instruksikan atau bantu pasien dengan program latihan dan penggunaan alat mobilisasi.
7. Potensial terjadinya infeksi berhubungan dengan masuknya kuman melalui jaringan (Depkes RI, 1996 : 121).
Tujuan : Tidak terjadi infeksi.
Intervensi :
a. Lakukan cuci tangan sebelum dan sesudah melakukan tindakan aseptik dan antiseptik.
b. Monitor suhu tubuh dan penurunan kesadaran.
c. Kolaborasi dengan tim medis dalam pemberian obat antibiotik.
d. Kolaborasi dengan tim analisis untuk pemberian kadar leukosit, liquor dari hidung, telinga, dan urin.
8. Gangguan integritas kulit berhubungan dengan terjadinya kerusakan jaringan kulit (Depkes, 1996 : 81).
Tujuan :
a. Pasien dapat mengidentifikasi faktor-faktor resiko terjadinya gangguan integritas kulit.
b. Pasien dapat berpartisipasi / kooperatif pada setiap tindakan.
Intervensi :
a. Inspeksi area kulit, kemerahan, bengkak, penekanan, kelembapan.
b. Observasi keutuhan / integritas kulit, catat adanya pembengkakan, kemerahan, bersihkan secara rutin, berikan salep antibiotik sesuai jadwal / instruksi.
c. Rubah posisi pasien setiap 2 jam miring kanan-kiri.
d. Gunakan pakaian tidur yang kering dan lunak.
e. Latih kembali secara tehnis program latihan pasien.
9. Resiko tinggi cidera aspirasi berhubungan dengan kesulitan menelan (Carpenito , 1998 : 579-580).
Tujuan : Cidera aspirasi tidak terjadi.
Intervensi :
a. Kaji faktor-faktor penyebab dan pendukungnya.
b. Kurangi resiko terjadinya aspirasi.
c. Pertahankan pada posisi miring, jika tidak merupakan kontra indikasi cedera.
d. Tinggikan kepala.
e. Beritahu individu dan keluarga penyebab-penyebab dan pencegahan aspirasi.


DAFTAR PUSTAKA

• Suriadi & Rita Yuliani. Asuhan Keperawatan Pada Anak , Edisi I. Jakarta: CV Sagung Seto; 2001.
• Hudak & Gallo. Keperawatan Kritis, Pendekatan Holistik , Volume II. Jakarta: EGC; 1996.
• Cecily LB & Linda AS. Buku Saku Keperawatan Pediatrik . Edisi 3. Jakarta: EGC; 2000.
• Suzanne CS & Brenda GB. Buku Ajar Medikal Bedah . Edisi 8. Volume 3. Jakarta: EGC; 1999. 

72 Asuhan Keperawatan Cidera Kepala Rating: 4.5 Diposkan Oleh: kiki norfiyanti

0 comments:

Posting Komentar

Silahkan berkomentar kawan