Makalah | Laporan Pendahuluan | Asuhan Keperawatan | Tips Sehat | Celana Olahraga | News

87 ASUHAN KEPERAWATAN APPENDICTOMY

LAPORAN PENDAHULUAN
APPENDICSITIS


A. Konsep Dasar

1. Pengertian

Appendiks adalah ujung seperti jari-jari yang kecil panjangnya kira-kira 10 cm (4 inchi), melekat pada sekum tepat di bawah katup ileosekal (Smeltzer, Suzanne, C., 2001).
Appendisitis adalah peradangan dari appendiks vermiformis, dan merupakan penyebab abdomen akut yang paling sering. Penyakit ini dapat mengenai semua umur baik laki-laki maupun perempuan, tetapi lebih sering menyerang laki-laki berusia antara 10 sampai 30 tahun (Mansjoer, 2000).
Apendektomi adalah pembedahan untuk mengangkat apendiks dilakukan sesegera mungkin untuk menurunkan resiko perforasi. (Smeltzer Suzanne, C., 2001).

2. Patofisiologi

Appendiks terinflamasi dan mengalami edema sebagai akibat tersumbat, kemungkinan oleh fekalit (massa keras dari feses), tumor atau benda asing. Proses inflamasi meningkatkan tekanan intraluminal yang akan menghambat aliran limfe yang mengakibatkan edema, diapedesis bakteri dan ulserasi mukosa menimbulkan nyeri abdomen atas atau menyebar hebat secara progresif, dalam beberapa jam, terlokalisasi dikuadran kanan bawah dari abdomen. Akhirnya appendiks yang terinflamasi berisi pus. (Smeltzer, Suzanne, C., 2001).

Bila sekresi mukus berlanjut, tekanan akan terus meningkat menyebabkan peradanganyang timbul meluas dan mengenai peritoneum setempat sehingga menimbulkan nyeri kanan bawah disebut apendisitis supuratif akut. Bila kemudian aliran arteri terganggu akan terjadi infark dinding apendiks yang diikuti dengan gangren yang disebut apendisitis gangrenosa. Bila dinding yang telah rapuh pecah akan terjadi apendisitis perforasi. Bila semua proses di atas berjalan lambat, omentum dan usus berdekatan akan bergerak ke arah apendiks hingga timbul suatu massa lokal yang dsebut infiltrat apendikularis. Peradangan appendiks dapat menjadi abses atau menghilang.
Pada anak-anak, omentum lebih pendek dan apendiks lebih panjang, dinding apendiks lebih tipis. Keadaan tersebut ditambah dengan daya tahan tubuh yang menjadi kurang memudahkan terjadinya perforasi. Pada orang tua perforasi mudah terjadi karena ada gangguan pembuluh darah (Mansjoer, 2000).

3. Manifestasi klinis

a. Nyeri kuadran bawah
b. Demam ringan
c. Mual-muntah
d. Hilangnya nafsu makan
e. Nyeri tekan lokal pada titik mc Burney
f. Nyeri tekan lepas (hasil atau intesifikasi dari nyeri bila tekanan dilepaskan)
g. Tanda rovsing dapat timbul dengan melakukan palpoasi kuadran bawah kiri yang secara paradoksimal menyebabkan nyeri yang terasa di kuadran kanan bawah
h. Distensi abdomen akibat ileus paralitik
i. Kondisi pasien memburuk
(Smeltzer, Suzanne, C, 2001)


4. Komplikasi

a. Komplikasi utama apendisitis adalah perforasi appendiks, yang dapat berkembang menjadi peritonitis atau abses.
b. Abses sub frenikus
c. Fokal sepsis intra abdominal lain
(Mansjoer, 2000)


5. Pathway

Appendiks terinflamasi

Peningkatan tekanan intraluminal

Menghambat aliran limfe

Ulserasi pada dinding mukosa

Gangren dan perforasi

Appendiktomy

Luka post OP





6. Pemeriksaan diagnostik
a. Jumlah leukosit lebih tinggi dari 10.000 /mm3, normalnya 5.000-10.000/mm3
b. Jumlah netrofil lebih tinggi dari 75%
c. Pemeriksaan urin rutin, urinalisis normal, tetapi eritrosit atau lekosit mungkin ada.
d. Pemeriksaan photo sinar x tidak tampak kelainan yang spesifik
(Doengoes, 1999)
7. Penatalaksanaan
a. Pembedahan diindikasikan bila diagnosa apendisitis telah ditegakkan.
b. Antibiotik dan cairan IV diberikan sampai pembedahan dilakukan.
c. Analgesik dapat diberikan setelah diagnosa ditegakkan.
(Smetzer, Suzanne, C., 20010
B. Konsep Dasar Keperawatan
Menurut Doengoes, 1999
1. Pengkajian
Dasar data pengkajian pasien (pra operasi)
a. Aktivitas atau istirahat
Gejala : Malaise
b. Sirkulasi
Tanda : Takikardia
c. Eliminasi
Gejala : Konstipasi pada awitan awal
Diare (kadang-kadang)
Tanda : Distensi abdomen, nyeri tekan / nyeri lepas, kekakuan, penurunan atau tidak ada bising usus
d. Makanan / cairan
Gejala : anoreksia
Mual / muntah
e. Nyeri kenyamanan
Gejala : Nyeri abdomen sekitar epigastrium dan umbilikus, yang meningkat berat dan terlokalisasi pada titik Mc. Burney.
Mc. Burney (setengah jarak antara umbilikus dan tulang ileum kanan), meningkat karena berjalan, bersin, batuk, atau nafas dalam (nyeri berhenti tiba-tiba di duga perforasi atau infark pada appendiks) keluhan berbagai rasa nyeri atau gejala tidak jelas (sehubungan dengan lokasi appendiks, contoh retrosekal atau sebelah ureter).
Tanda : Perilaku berhati-hati, berbaring ke samping atau telentang dengan lutut ditekuk, meningkatnya nyeri pada kuadran kanan bawah karena posisi ekstensi kaki kanan atau posisi duduk tegak
Nyeri lepas pada sisi kiri di duga inflamasi peritoneal.
f. Keamanan
Tanda : Demam (biasanya rendah)
g. Pernafasan
Tanda : Takipnea, pernafasan dangkal
2. Diagnosa keperawatan
a. Infeksi, resiko tinggi berhubungan dengan tidak adekuatnya pertahanan utama, perforasi atau ruptur pada apendiks, peritonitis, pembentukan abses.
b. Kekurangan volume cairan, berhubungan dengan muntah pra operasi, pembatasan pasca operasi.
c. Nyeri (akut) berhubungan dengan adanya insisi bedah.
d. Kurang pengetahuan berhubungan dengan perjalanan penyakit.
3. Intervensi dan rasionalisasi
Diagnosa I
Intervensi Rasional
- Awasi tanda vital, perhatikan demam, menggigil, berkeringat, perubahan mental, meningkatkan nyeri abdomen - Dugaan adanya infeksi atau terjadinya sepsis, abses, peritonitis
- Lakukan pencucian tangan yang baik dan perawatan luka aseptik - Menurunkan resiko penyebaran penyakit atau bakteri
- Lihat insisi dan balutan - Memberikan deteksi dini terjadi nya proses infeksi dan pengawasan penyembuhan peritonitis yang telah ada sebelumnya.


Diagnosa II
Intervensi Rasional
- Awasi tekanan darah dan nadi - Tanda yang membantu mengidentifikasi fluktuasi volume intra vaskuler
- Lihat membran mukosa, kaji turgor kulit dan pengisian kapiler - Indikator keadekuatan sirkulasi perifer dan hidrasi seluler
- Awasi masukan dan haluaran; catat warna urin atau konsentrasi, berat jenis - Penurunan haluaran urin pekat dengan peningkatan berat jenis di duga dehidrasi atau kebutuhan peningkatan cairan.

Diagnosa III
Intervensi Rasional
- Kaji nyeri, catat lokasi, karakteristik beratnya (skala 0-10) - Berguna dalam pengawasan keefektifan obat, kemajuan penyembuhan
- Pertahankan istirahat dengan posisi semi-fowler - Gravitasi melokalisasi eksudat inflamasi dalam abdomen bawah atau pelvis, menghilang-kan tegangan abdomen
- Dorong ambulasi dini - Meningkatkan normalisasi fungsi organ, contoh merangsang peristaltik dan kelancaran flatus, menurunkan ketidaknyamanan abdomen.

Diagnosa IV
Intervensi Rasional
- Kaji ulang pembatasan aktivitas pasca operasi - Memberikan inflamasi pada pasien untuk merencanakan rutinitas biasa tanpa menimbulkan masalah
- Dorong aktivitas sesuai tolerasi dengan periode istirahat periodik - Mencegah kelemahan, meningkatkan penyembuhan dan perasaan sehat
- Anjurkan menggunakan laksatif atau pelembek feses ringan bila perlu dan hindari enema - Membantu kembali ke fungsi usus semula




ASUHAN KEPERAWATAN PADA Nn. L DENGAN POST APENDICTOMY DI RUANG KEPET RS.kopet BULAK GATEL

A. Pengkajian
Tanggal pengkajian : 14 April 2008
Jam pengkajian : 08.00 WIB
Tanggal masuk : 11 April 2008
1. Identitas
a. Identitas pasien
Nama : Nn. L
Umur : 17 th
Jenis kelamin : Perempuan
Alamat : Sriwedari, Laweyan, BULAK GATEL
Suku : Jawa
Bangsa : Indonesia
Agama : Islam
Pendidikan : SMA
Pekerjaan : Pelajar
b. Identitas penanggung jawab
Nama : Tn. s
Umur : 52 th
Jenis kelamin : Laki-laki
Alamat : Sriwedari, Laweyan, BULAK GATEL
Agama : Islam
Pekerjaan : Wiraswasta
Hub. dgn pasien : Ayah kandung
2. Keluhan utama
Pasien mengatakan nyeri pada luka bekas post operasi.
3. Riwayat kesehatan
a. Riwayat kesehatan sekarang
Sehari kiriman dr. D, keluhan ± 1 minggu nyeri perut kanan bawah, mual kadang-kadang muntah, pasien dirawat dibangsal KEPET dengan terapi infus RL 20 tetes per menit, injeksi biotiax 1 gr/hari.
b. Riwayat keperawatan dahulu
Pasien belum pernah mondok, tidak pernah mengalami kecelakaan maupuan trauma, mempunyai riwayat alergi kacang goreng.
c. Riwayat keperawatan keluarga
Keluarga pasien tidak ada yang menderita penyakti yang sama dengan pasien.
4. Pola fungsional (menurut Gordong)
a. Pola persepsi dan manajemen kesehatan
Nn. L mengatakan bila ada anggota keluarga yang sakit dibawa ke puskesmas bila belum sembuh diperiksakan ke dokter.
b. Pola nutrisi
Sebelum sakit : Pasien mengatakan makan 3 x/hari, mau makan sayur dan buah-buahan, minum ± 1.000 cc.
Selama sakit : Pasien makan 3 x/hari, makan habis ¼ porsi, minum ± 600 cc
c. Pola eliminasi
Sebelum sakit : Nn. L mengatakan BAK 4-5 x/hari warna kuning jernih, dan BAB 1 x/hari dengan konsistensi lembek
Selama sakit : Pasien BAB 1 x/hari dan BAK 3-4 x/hari
d. Pola keamanan dan kenyamanan
Pasien mengatakan nyeri pada perut bagian kanan bawah.
P : nyeri saat bergerak
Q : nyeri seperti ditusuk-tusuk
R : nyeri dirasakan di bagian perut kanan bawah
S : skala nyeri 4
T : nyeri dirasakan kadang-kadang
e. Sistem pernafasan
Pasien tidak mengalami gangguan pernafasan, tidak ada sumbatan pada saluran nafasnya.
f. Pola aktivitas dan latihan
Sebelum sakit : Pasien dapat memenuhi kebutuhan dan aktivitas sehari-hari dengan mandiri.
Selama sakit : Pasien setiap hari berbaring di atas tempat tidur
Pemenuhan kebutuhan sehari-hari dibantu keluarga dan perawat.

g. Pola istirahat dan tidur
Sebelum sakit : Pasien tidur ± 7 jam/hari dan bisa tidur dengan nyenyak.
Selama sakit : Pasien tidur ± 6 jam shari.
h. Pola persepsi kognitif
Nn. L mengatakan sudah mengetahui tentang penyakitnya yaitu usus buntu.
i. Pola peran dan hubungan
Nn. L mau diajak berkomunikasi, kooperatif, Nn. L mengatakan berhubungan baik dengan keluarganya dan teman-temanya.
j. Pola reproduksi dan seksual
Pasien belum menikah, belum mempunyai anak.
k. Pola koping terhadap stres
Pasien sabar dalam menerima keadaannya sekarang dan tampak tenang.
l. Pola nilai dan keyakinan
Pasien beragama Islam, selalu menjalankan sholat 5 waktu, selama sakit di atas tempat tidur, dan selalu berdoa agar penyakitnya cepat sembuh.
5. Pemeriksaan fisik
a. Keadaan umum : Sedang
b. Kesadaran : Compos mentis, GCS : 15
c. Tanda-tanda vital : TD : 110/60 mmHg, Rr : 20 x/menit
N : 80 x/mnt, S : 36°C
d. Kepala :
1) Mata : Conjungtiva anemis, simetris kanan = kiri
2) Hidung : Tidak ada sekret, tidak ada polip
3) Telinga : Simetris kanan dan kiri, tidak ada serumen, masih berfungsi dengan baik
4) Leher : Tidak ada pembesaran kelenjar tiroid
e. Dada :
1) Paru I : Pengembangan paru kanan = kiri
P : Fremitus raba kanan sama dengan kiri
P : Sonor
A : Tidak ada wheezing
2) Jantung I : Ictus cordis tidak tampak
P : Ictus cordis kuat angkat
P : Pekak
A : BJ I, II reguler
3) Abdomen :I : Terdapat jahitan luka post operasi tertutup kassa
A : Peristaltik usus 12 x/menit
P : Tidak ada massa
P : Ada nyeri tekan
f. Ekstremitas
Atas : Terpasang infus RL 20 tpm
Bawah : Dapat bergerak bebas
g.. Geneta urinaria : Genetalia bersih, terpasang DC
h. Kulit : Berwarna sawo matang, turgor kulit baik
6. Program terapi
a. Biotriax 1 gr/ hari
b. Remopain 1 ml/12 jam
c. Flagil sup 3 x 1
7. Pemeriksaan penunjang
Hasil laboratorium pada tanggal 11 April 2008
Hemoglobin 13,9 g/dl N : Pr : 11,5-16,5 g/dl ; Lk : 13-18 g/dl
Lekosit 6.800 /mm3 N : 4.000-11.000 /mm3
Erytrosit 4,99 N : Lk : 4,5-5,5 /mm3 ; Pr : 4-5 /mm3
Hematokrit 43 N : Lk : 40-50 % ; Pr : 37-43 %
Trombosit 299.000 N : 150.000-400.000
8. Data fokus
a. Data subyektif :
1) Pasien mengatakan nyeri pada perut luka post operasi
2) Pengkajian kenyamana
P : nyeri dirasakan saat bergerak
Q : nyeri seperti ditusuk-tusuk
R : nyeri dirasakan di bagian perut kanan bawah
S : skala nyeri 4
T : nyeri dirasakan kadang-kadang

3) Pasien mengatakan badannya masih lemas
4) Pasien mengatakan aktivitasnya dibantu oleh keluarga dan perawat.
b. Data obyektif :
1) Terdapat luka post operasi pada perut kanan bawah
2) Paien tampak lemas
3) TD : 120/60 mmHg, N : 80 x/menit, RR : 20 x/menit, S : 36°C
4) Aktivitas dibantu oleh keluarga dan perawat
5) Wajah meringis menahan nyeri di perutnya
6) Keadaan umum : sedang

B. Analisa Masalah
No Data Problem Etiologi
1. DS : - Pasien mengatakan nyeri pada perut luka post operasi
P : nyeri dirasakan saat bergerak
Q : nyeri seperti ditusuk-tusuk
R : nyeri dirasakan di bagian perut kanan bawah
S : skala nyeri 4
T : nyeri dirasakan kadang-kadang
DO : - Terdapat luka post operasi pada perut kanan bawah
- Wajah meringis menahan nyeri di perutnya Nyeri akut Luka post operasi apendiktomy
2. DS : -
DO : - Terdapat luka post operasi pada perut kanan bawah
- Leukosit : 6.800 /mm3
- TD : 120/60 mmHg,
N : 80 x/menit
S : 36°C
RR : 20 x/menit Resiko tinggi infeksi Port de entry
3. DS : - Pasien mengatakan aktivitas dibantu keluarga
- Pasien mengatakan badannya masih lemas
DO : - Pasien tampak lemas
- TD : 120/60 mmHg,
N : 80 x/menit, S : 36°C
RR : 20 x/menit
- Aktivitas dibantu oleh keluarga dan perawat
- Terpasang infus RL 20 tpm Gangguan pemenuhan ADL Kelemahan fisik
C. Diagnosa Keperawatan
1. Gangguan rasa nyaman : sakit kepala berhubungan dengan pelebaran pembuluh darah akibat dari peningkatan TD
2. Perubahan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan anoreksia, mual muntah.
3. Gangguan pemenuhan ADL berhubungan dengan kelemahan fisik.

D. Intervensi Keperawatan
1. Diagnosa I
Tujuan : Setelah dilakukan asuhan keperawatan selama 3 x 24 jam nyeri akut dapat berkurang.
KH : - Wajah pasien rileks
- Nyeri pasien berkurang
Intervensi :
a. Kaji keadaan umum pasien
b. Kaji skala nyeri PQRST
c. Monitor vital sign
d. Berikan posisi yang nyaman
e. Ajarkan teknik relaksasi distraksi nafas dalam
f. Injeksi analgetik sesuai program
2. Dx. II
Tujuan : Setelah dilakukan asuhan keperawatan selama 3 x 24 jam tidak terjadi infeksi.
KH : - Tidak ada tanda infeksi (dolor, rubor, kalor, fungsiolesa, tumor)
Intervensi :
a. Observasi vital sign
b. Kaji keadaan luka
c. Kaji adanya tanda infeksi
d. Lakukan perawatan luka
e. Kolaborasi dalam pemberian obat antibiotik
3. Diagnosa III
Tujuan : Setelah dilakukan asuhan keperawatan selama 3 x 24 jam ADL terpenuhi.
KH : - ADL dapat dipenuhi secara mandiri
- Keadaan umum baik
Intervensi :
a. Kaji tingkat ketergantungan pasien
b. Dekatkan alat atau barang yang dibutuhkan pasien
c. Motivasi pasien untuk miring ke samping kanan dan kiri
d. Libatkan keluarga dalam pemenuhan ADL pasien

E. Implementasi
No.Dx Hari/Tgl/ jam Implementasi Respon Paraf
I Senin
14-04-08
08.00 - Mengkaji keadaan umum pasien Keadaan umum pasien lemah

I 11.00 - Monitor vital sign TD : 120/80 mmHg
N : 80 x/menit
RR : 22 x/menit
S : 36,2°C
II 08.30 - Mengkaji keadaan luka Daerah sekitar luka tidak terdapat tanda-tanda infeksi
II 08.10 - Mengkaji adanya tanda infeksi Tidak ada tanda-tanda infeksi
I 08.00 - Melakukan injeksi Remopain 1 ml/12 jam Obat masuk lewat selang IV
III 08.20 - Mengkaji tingkat ketergantungan pasien Pasien belum bisa bangun tidur
III 11.30 - Memberi fooding Pasien makan habis ¼ porsi
III 09.00 - Motivasi pasien untuk miring ke samping kanan dan kiri Pasien belum berani miring ke kiri dan kanan
III 07.30 - Melibatkan keluarga dalam pemenuhan ADL pasien Keluarga selalu membantu pasien dalam pemenuhan ADL
I 11.10 - Mengajarkan pasien tehnik relaksasi, nafas dalam Pasien mau mengikuti dengan nafas dalam
I Selasa
15-04-08
15.00 - Mengkaji keadaan umum pasien Keadana umum pasien baik
I 16.00 - Monitor vital sign TD : 120/60 mmHg
S : 36°C
Rr : 20 x/menit
N : 80 x/menit
II 21.00 - Melakukan injeksi Biotrax 1 gr/hari Obat masuk melalui selang infus
16.30 - Memberi fooding Fooding diterima keluarga pasien
14.30 - Mengajarkan pasien tehnik relakasi (nafas dalam) Pasien mau mengikuti nafas dalam
15.00 Menyiapkan air untuk sibin Pasien mau mengikuti nafas dalam

I, II Rabu
16-04-08
08.00 - Mengkaji keadaan umum pasien
- Melakukan vital sign Keadaan umum sedang

TD : 120/80 mmHg
N : 88 x/menit
R : 20 x/menit
S : 36,5°C
I, II 08.30 - Melakukan injeksi lewat selang infus remopain 1 ml, Biotrax 1 gram/ 24 jam Obat masuk lewat selang infus
II 09.00 - Melakukan medikasi Luka tampak bersih
II - Memotivasi pasien untuk miring kanan dan kiri Pasien kooperatif
III - Mendekatkan alat-alat yang dibutuhkan pasien Pasien kooperatif
II, III 11.00 - Melakukan vital sign dan mengkaji tingkat ketergantungan pasien TD : 120/90 mmHg
S : 36°C
N : 80 x/menit
Rr : 20 x/menit
III 12.00 - Mengantarkan makanan Pasien kooperatif


F. Evaluasi
Tgl/jam Evaluasi TTD
Kamis
17 April 2008
08.00 S : Pasien mengatakan nyeri berkurang
O : P : nyeri dirasakan saat bergerak
Q : nyeri seperti ditusuk-tusuk
R : nyeri dirasakan di bagian perut kanan bawah
S : skala nyeri 4
T : nyeri dirasakan kadang-kadang
A : Masalah nyeri teratasi sebagian
P : Intervensi dilanjutkan
- Lakukan medikasi sesuai program
- Kolaborasi dalam pemberian analgetik
08.00 S : -
O : Luka masih tertutup kassa, post op hari ke-5, leukosit 6.800 /mm3
A : Infeksi tidak terjadi
P : Intervensi dilanjutkan
- Lakukan medikasi sesuai program
- Berikan injeksi sesuai program
08.00 S : Pasien mengatakan aktivitas masih dibantu
O : Pasien masih tampak lemas
Terpasang infus RL 20 tpm
Aktivitas dibantu keluarga dan perawat
A : Masalah ADL belum teratasi
P : Intervensi dilanjutkan
- Libatkan keluarga dalam pemenuhan ADL
- Dekatkan barang-barang yang dibutuhkan.


DAFTAR PUSTAKA

Doengoes, Marilynn, E., 2000, Rencana Asuhan Keperawatan, EGC, Jakarta.

Mansjoer, Arif, 2000, Kapita Selekta Kedokteran, Media Aesculapius, FKUI, Jakarta.

Smeltzer, C. Suzanne, C. Brenda, G. Bare, 2001, Buku Ajar Keperawatan Medikal Bedah, Brunner & Suddarth, EGC, Jakarta.

87 ASUHAN KEPERAWATAN APPENDICTOMY Rating: 4.5 Diposkan Oleh: kiki norfiyanti